Rabu, 13 Maret 2013

Entomologi Forensik, Tehnik Pecahkan Kasus Gunakan Serangga

Tim entomologi forensik yang sedang mengumpulkan bukti-bukti di tempat kejadian perkara.


Pernah mendengar yang namanya entomologi forensik? Entomologi forensik (forensic entomology) adalah ilmu terapan yang merupakan gabungan dari 2 bidang ilmu : entomologi & forensik. Entomologi adalah ilmu yang mempelajari tentang serangga, sementara forensik adalah penerapan ilmu sains untuk menangani masalah kriminal & penegakan hukum. Jadi, entomologi forensik bisa didefiniskan sebagai ilmu yang mempelajari serangga untuk digunakan dalam keperluan penanganan masalah-masalah kriminal, khususnya yang melibatkan mayat.

Berdasarkan bidang aplikasinya, forensik entomologi bisa dibagi ke dalam 3 kategori : entomologi forensik urban, produk simpanan, & medikolegal. Jika entomologi forensik urban mengkhususkan diri pada dampak serangga (hama) terhadap lingkungan yang ditempati manusia, maka entomologi forensik produk simpanan terfokus pada dampak yang ditimbulkan serangga terhadap barang yang disimpan, khususnya makanan. Kategori terakhir yang juga menjadi topik pembahasan utama dalam artikel ini adalah entomologi forensik medikolegal yang digunakan untuk menyelidik kasus-kasus kriminal yang melibatkan manusia seperti pembunuhan, kekerasan seksual, kecelakaan, & lain-lain.


Siklus hidup lalat, serangga yang paling banyak dimanfaatkan dalam entomologi forensik.
 
Sebelum kita membahas lebih jauh soal entomologi forensik (kedokteran-hukum), maka kita perlu tahu lebih dulu proses yang terjadi pada manusia saat meninggal. Saat jantung seseorang berhenti berdetak secara permanen, maka aliran darah yang membawa oksigen ke sel-sel tubuh secara otomatis terhenti sehingga sel-sel tersebut mulai mati. Terhentinya aliran darah juga membuat darah terkumpul di titik-titik tertentu sehingga ada bagian-bagian pada tubuh yang terlihat pucat & terlihat gelap. Sekitar 3 jam sesudah meninggal, tubuh orang yang bersangkutan juga menjadi kaku karena otot-ototnya mengeras akibat dari hilangnya cairan tubuh.

Seiring berjalannya waktu, mayat akan mulai membusuk & hancur sebagai akibat dari aktivitas bakteri-bakteri pengurai. Aktivitas penguraian tersebut menghasilkan gas metan sebagai salah satu produk sampingannya sehingga mayat pun jadi terasa berbau busuk jika dicium. Namun, bakteri sendiri bukanlah satu-satunya penyebab utama hancurnya mayat. Hewan-hewan bersel banyak yang berukuran kecil semisal belatung (larva lalat) diketahui hidup dari memakan tubuh makhluk hidup yang sudah mati. Ada atau tidaknya belatung atau maggot inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh pakar entomologi forensik dalam melakukan penyelidikan.


CARA KERJA ENTOMOLOGI FORENSIK

Pertanyaan berikutnya adalah , bagaimana cara memanfaatkan belatung pada mayat untuk keperluan penanganan masalah kriminal? Jadi, tidak lama sesudah seseorang meninggal, baunya akan mulai menarik serangga seperti lalat botol & lalat rumah untuk hinggap & bertelur di atasnya. Memasuki hari ke-4 sejak orang yang bersangkutan meninggal, belatung yang menetas dari telur tersebut biasanya sudah mulai terlihat pada mayat. Nah, keberadaaan belatung pada mayat itulah yang diperiksa untuk mendapatkan gambaran mengenai waktu kematian korban. Perlu diperhatikan juga bahwa tiap-tiap spesies lalat memiliki karakteristik pertumbuhannya sendiri-sendiri.


Foto anak babi & hasil pemotretan dengan kamera bersensor panas.
Tampak segerombolan belatung di bagian lehernya.
 
 
Selain melihat ada tidaknya lalat beserta fase-fase metamorfosisnya pada mayat, pengukuran panjang & berat pada belatung juga dilakukan untuk mengetahui usia pertumbuhan belatung. Sisa kulit kepompong juga dilihat untuk mengetahui belatung mana yang muncul paling awal pada mayat. Hasil pengamatan & pengukuran belatung tersebut lalu dikombinasikan dengan penyelidikan mengenai keadaan lokasi tempat meninggal, kondisi fisik mayat, cuaca di lokasi kejadian, & spesies-spesies serangga yang umum ditemukan di sekitar tempat kejadian perkara sehingga waktu & proses kematian orang yang bersangkutan bisa diketahui.

Selain memakai metode pengukuran & pengamatan secara manual, ada beberapa metode modern yang digunakan untuk membantu keperluan penyelidikan dalam entomologi forensik. Metode-metode tersebut antara lain pengamatan memakai mikroskop elektron, pemindaian mayat dengan kamera bersensor panas, perendaman telur lalat dalam larutan potasium permanganat, & uji DNA mitokondria untuk mengetahui asal spesies dari lalat. Adapun untuk keperluan pembelajaran & simulasi mengenai entomologi forensik, orang kerap menggunakan bangkai babi sebagai pengganti mayat manusia.

Lalat adalah hewan yang paling umum digunakan sebagai serangga patokan dalam entomologi forensik karena mobilitas & kepekaan mereka yang tinggi akan mayat. Namun, lalat bukanlah satu-satunya serangga yang diandalkan oleh ahli entomologi forensik untuk menyelesaikan kasusnya. Serangga-serangga pemakan bangkai yang lain semisal semut, kumbang pemakan bangkai, & kecoa juga kerap diselidiki di mana serangga-serangga tadi biasanya baru muncul jika usia mayat sudah lebih dari seminggu. Untuk kasus-kasus tertentu semisal meninggal akibat alergi sengatan lebah atau tawon, pihak penyelidik juga memeriksa darah korban untuk mengkonfirmasi penyebab kematiannya. 
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar