Rabu, 02 Mei 2012

Pengakuan Kapten A, Sang "Koboi Palmerah"


Sajianberita - Gambar ini gamblang ditunjukkan dalam video berjudul "Koboy Palmerah": seorang pria berpakaian putih dan krem, tangan kanan memegang tongkat besi dan pistol di tangan kiri, menghadapi seorang pengendara skuter yang tak sempat, atau mungkin tak berani, melepas helmnya. 


Pria berbaju putih tampak agresif, berteriak-teriak, memukulkan tongkatnya berkali-kali ke arah pria berbaju biru yang terus berusaha menangkis. Pistol masih tergenggam di tangannya. Adegan kekerasan itu disaksikan banyak mata, para pengguna jalan yang melintas dengan perasaan ngeri. 



Mobil berpelat nomor 1394-00 dengan tanda bintang memberi petunjuk siapa pria yang mengumbar senjata itu. Saat dikonfirmasi, Kepala Sub Dinas Penerangan Umum TNI Angkatan Darat, Kolonel Zaenal Mutaqin tak membantah bahwa oknum itu adalah anggotanya. Pangkatnya kapten, nama berinisial A. "Koboi Palmerah" itu adalah Kapten A. 



Namun, Zaenal membantah keterangan saksi yang menyebut anggotanya itu sempat menembakkan senjatanya dua kali. Kata dia, pistol di tangan Kapten A bukan senjata, tapi mainan airsoft gun



"Kami sangat menyayangkan kedua belah pihak tak dapat mengendalikan emosi. Sampai anggota kami juga mengambil pistol mainan, airsoft gun, dan hanya mengacung-acungkannya ke udara, tidak ditembakkan, karena itu kan bukan senjata api," ujar Zaenal, saat ditemui di kantornya, Mabes AD, Jakarta Pusat, Selasa, 1 Mei 2012.



Melalui secarik surat, Kapten A memberikan testimoni pada institusinya, tentang apa yang sebenarnya terjadi di Palmerah, sesuai versinya. 



Berikut pengakuan Kapten A, seperti dibacakan Zaenal:



"Pada pukul 15.00 saat itu saya berniat akan menjemput orang tua saya di Bandara Soekarno Hatta. Saat melintas di Palmerah, situasi jalan raya sedikit tersendat. Pada saat mobil saya bergeser ke arah kiri, kaca kiri mobil saya diketuk. Pengendara itu berkata 'jangan mentang-mentang aparat seenaknya saja'. 

Saya kaget lalu turun dari mobil untuk menanyakan masalahnya. Saya berpikir motornya terserempet tapi ternyata tidak. Saya tinggalkan dia sambil dia mengancam akan melaporkan ke atasan saya. Saya bilang silakan saja.

Saya kembali ke mobil dan siap melanjutkan perjalanan menuju bandara karena khawatir, orang tua saya mengidap sakit jantung. Ketika akan menyalakan mesin mobil, pintu mobil saya ditendang dan kaca mobil diketok oleh pengendara motor itu. Saya turun dan sempat mengeluarkan dan mengacungkan air softgun dan stik besi yang saya punya agar dia mengeluarkan SIM miliknya. Lalu Pomdam Jaya melintas dan saya dibawa."

Sebelumnya, Andri seorang saksi mata mengungkapkan versi berbeda. Kata dia, motor skuter putih terlihat bersenggolan dengan mobil dinas milik TNI AD pada Senin 30 April 2012. Tidak terima, orang yang berada di dalam mobil dinas TNI AD langsung keluar mobil sambil menenteng senjata.



Saat pengendara mobil dinas TNI AD itu melepaskan tembakan, mobil di sekitar jalan itu langsung berhenti. Kemacetan tidak terhindari. Tetapi, tidak ada satupun warga dan pengendara yang berani melerai keduanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar